====================================================
Istighfar
dan Sholawat: Kunci Keberkahan Hidup
Setiap muslim tentu
ingin menjalani hidup dengan hati yang tenang, penuh berkah, dan mendapat ridha
Allah ﷻ. Untuk meraih semua itu, Allah telah
memberikan banyak jalan kebaikan. Dua di antaranya yang sangat agung adalah istighfar dan sholawat. Kedua amalan ini bukan hanya
sekadar doa di lisan, tetapi memiliki kedalaman makna, keutamaan yang luar
biasa, dan dampak besar bagi kehidupan dunia serta akhirat.
Istighfar: Jalan
Ampunan dan Rahmat Allah
Istighfar adalah
permohonan ampun seorang hamba kepada Allah atas dosa dan kesalahannya. Dalam
Al-Qur’an, Allah ﷻ banyak menganjurkan
hamba-Nya untuk memperbanyak istighfar. “Maka aku katakan kepada mereka:
Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.
Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan
anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta sungai-sungai. (QS. Nuh:
10–12)
Ayat ini menunjukkan
bahwa istighfar tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga menjadi sebab turunnya
rezeki, kesehatan, keturunan yang baik, dan keberkahan dalam kehidupan.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Al-Bukhari)
Jika Rasulullah ﷺ
yang maksum saja memperbanyak istighfar, maka kita sebagai umatnya tentu lebih
pantas untuk menjadikan istighfar sebagai wirid harian
Sholawat: Rahmat dan
Kedudukan Mulia
Selain istighfar,
amalan agung lainnya adalah memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan
malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman,
bersholawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Barangsiapa bersholawat kepadaku satu kali,
maka Allah bersholawat kepadanya sepuluh kali.”(HR. Muslim)
Sholawat adalah amalan
yang mendatangkan rahmat Allah, menghapus dosa, mengangkat derajat, serta
menjadi sebab terkabulnya doa. Bahkan, doa seorang hamba terhijab sampai ia
membaca sholawat terlebih dahulu.
Menggabungkan Istighfar
dan Sholawat
Para ulama menegaskan bahwa
menggabungkan istighfar dan holawat adalah amalan yang sangat mulia. Istighfar
membersihkan dosa dan membuka jalan bagi turunnya rahmat, sementara sholawat
menjadi sebab turunnya rahmat itu dan memperkuat ikatan kita dengan Rasulullah ﷺ.
Istighfar→ membersihkan
kotoran hati.
Sholawat → menghiasi
hati dengan cinta dan cahaya.
Dengan memperbanyak keduanya, seorang muslim akan merasakan keberkahan dalam hidup, kelapangan rezeki, ketenangan jiwa, dan insyaAllah keselamatan di akhirat
Imam Ibn Qayyim
al-Jauziyyah dalam Al-Wabil ash-Shayyib:
“Dzikir yang paling bermanfaat adalah
istighfar, dan dzikir yang paling mulia adalah sholawat.”
Imam As-Sakhawi dalam
al-Qaul al-Badi‘:
Beliau menegaskan bahwa
sholawat memiliki fadhilah luar biasa, di antaranya menjadi sebab datangnya
rahmat, terbukanya pintu rezeki, dan terangkatnya kesempitan.
Imam Nawawi dalam
al-Adzkar:
Menjelaskan bahwa
istighfar adalah dzikir yang tidak boleh ditinggalkan seorang muslim setiap
harinya, karena dengan istighfar seorang hamba selalu kembali kepada Allah.
Istighfar dan sholawat adalah dua amalan utama yang sangat dianjurkan dalam Islam. Istighfar membersihkan diri dari dosa dan mendatangkan rahmat Allah, sedangkan sholawat menghubungkan kita dengan Rasulullah ﷺ serta menjadi jalan turunnya keberkahan hidup. Keduanya tidak boleh dipertentangkan, melainkan diamalkan bersama sebagai kunci kebahagiaan dunia dan akhirat. Seorang muslim yang memperbanyak istighfar dan sholawat akan merasakan ketenangan hati, kelapangan rezeki, terkabulnya doa, dan insyaAllah mendapat syafaat Rasulullah ﷺ pada hari kiamat kelak.
Sholawat atau
Istighfar: Mana yang Lebih Utama Menurut Para Ulama?
Dalam kehidupan
sehari-hari, umat Islam tidak lepas dari dzikir dan doa. Dua di antara amalan
yang paling sering diamalkan adalah sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ
dan istighfar memohon ampun kepada Allah. Namun muncul pertanyaan: Mana yang
lebih utama, memperbanyak sholawat atau memperbanyak istighfar?
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan
malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman,
bersholawatlah kalian untuk beliau dan ucapkanlah salam penghormatan.” (QS.
al-Ahzab: 56)
Hadis Nabi ﷺ:
“Barang siapa bersholawat kepadaku sekali, Allah akan bersholawat kepadanya
sepuluh kali.” (HR. Muslim, no. 408)
Allah berfirman: “Maka
aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha
Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan lebat atasmu, memperbanyak harta
dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (QS.
Nuh: 10-12)
Hadis Nabi ﷺ:
“Demi Allah, aku
beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari 70 kali dalam
sehari.” (HR. Bukhari, no. 6307)
Imam Ibn Hajar
al-Asqalani
Dalam Fath al-Bari (juz 11, hlm. 167), beliau menjelaskan:
Dzikir yang paling
utama berbeda-beda sesuai keadaan. Jika seseorang banyak dosa, maka istighfar lebih utama. Namun jika ia ingin
mendekat kepada Allah lewat cinta Nabi ﷺ, maka sholawat
lebih utama.
Imam as-Sakhawi
Dalam al-Qaul al-Badi’
fi ash-Shalati ‘ala al-Habib asy-Syafi’ (hlm. 23), beliau berkata:
Tidak boleh
membandingkan secara mutlak antara sholawat dan istighfar. Keduanya adalah
ibadah agung. Yang paling utama ditentukan oleh kebutuhan hamba.
Imam Ibn Qayyim
al-Jauziyyah
Dalam Jala’ al-Afham fi
Fadhli ash-Shalati ‘ala Khair al-Anam (hlm. 79), beliau menulis:
Sholawat memiliki
keutamaan khusus karena ia adalah doa yang pasti dikabulkan, sebab Allah
sendiri dan para malaikat juga bersholawat. Namun istighfar adalah pintu
ampunan dan rahmat Allah. Maka seorang hamba hendaknya .menggabungkan keduanya.
Dalam al-Adzkar (hlm.
84), beliau menyebutkan:
Dzikir yang terbaik tidak ditetapkan secara mutlak, melainkan mengikuti kondisi seseorang. Jika banyak kesalahan, istighfar lebih tepat. Jika ingin memperbanyak pahala dan kedudukan di sisi Nabi ﷺ, maka sholawat lebih utama.
1.stighfar utama bagi
yang banyak dosa, karena ia adalah pintu taubat.
2.Sholawat utama
sebagai bentuk cinta dan syukur kepada Nabi ﷺ, serta jalan
menuju syafa’at.
3.Ulama sepakat tidak
boleh merendahkan salah satu di antara keduanya.
4.Menggabungkan
keduanya adalah amalan terbaik: istighfar untuk pengampunan, sholawat untuk
mendapatkan syafa’at dan rahmat.
Jadi, bukan soal mana
yang lebih baik secara mutlak, melainkan mana yang lebih sesuai dengan kondisi
hati seorang hamba. Sebagaimana dikatakan oleh para ulama:
“Barang siapa yang
merasa banyak dosa, perbanyaklah istighfar.”
“Barang siapa yang
ingin dekat dengan Rasulullah ﷺ dan mendapat syafa’at,
perbanyaklah sholawat.”
Seorang muslim yang
cerdas akan menghiasi hidupnya dengan keduanya sekaligus: istighfar untuk
membersihkan hati, sholawat untuk menghidupkan cinta dan mendapatkan syafa’at
Nabi ﷺ.